Awal yang tak kukenal

Hari itu hari Rabu, orang Jawa melengkapinya dengan hari pasaran Pahing, sekitar pukul 23.00 hampir tengah malam bertanggal 4 bulan Juni tahun 1947, tangisku memecah di kesunyian malam, membuat ayahku semakin tergopoh-gopoh lari kesana kemari mencari dukun bayi yang akhirnya terlambat datang menolong ibuku dalam kondisi susah payah saat melahirkan aku secara mandiri. Suaraku terdengar serak karena terminum sebagian air ketuban yang keluar mendahuluiku. Dengan cekatan sang dukun yang telah berpengalaman segera merawat aku dan ibuku sehingga keduanya selamat tak kurang suatu apa, sehat, tenang, penuh rasa syukur. Malam berikutnya rumahku banyak tamu berdatangan dalam rangka Jagong Bayi, dilanjutkan acara main kartu oleh bapak-bapak sampai dini hari. Nama telah disiapkan ayahku, kalau anak pertama (perempuan) diberi nama Sri Wiji Rahayu (saat itu sudah almarhumah), anak kedua yang awalnya bernama Joko Kuasai (karena lahirnya berbarengan dengan kemenangan Jepang terhadap Belanda di tahun 1942). tapi kemudian diubah menjadi Mardiyanto, anak ketiga diberi nama Mardiyono, maka sebagai anak keempat aku diberi nama Marsudi. Nama-nama tersebut (tiga anak) berawalan Mar, rupanya ayahku ingin membangun dinasty Mar karena mengikuti nama beliau Roestamadji Martoatmodjo. Saat itu ayahku menjabat sebagai guru di Walikukun salah satu kota kecamatan di kabupaten Ngawi. Entah karena apa di tahun 1948 ayahku dimutasi ke kota Ngawi, dan di kota inilah ayahku membuka lembaran baru dalam sejarah kehidupan yang penuh perjuangan yang tak pernah padam, sampai akhirnya berhasil menghantar semua anak-anaknya sebanyak 12 orang (kecuali 3 yang meninggal dunia) kejenjang kehidupan berkeluarga yang sejahtera.

Kembali ke lakonku awal, saat pindah ke kota Ngawi, pada mulanya kami tinggal di kampung Karang Tengah, tragedi mulai terjadi. Gara-gara terpeleset di sumur, ibuku jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 10 Oktober 1948.

Komentar